Daftar Program

RUMAH HARAPAN DA’I PELOSOK BMM

SKU

TAGS

Share:

Pendidikan Agama adalah ujung tombak meraih masa depan. Di sebagian daerah, banyak pejuang pendidikan mengajar tanpa lelah meski ia harus bertahan hidup seadanya. Himpitan ekonomi, tidak menyurutkan para pejuang pendidikan untuk mengajar dan mendidik anak-anak desa.

Kemiskinan tidak mengenal profesi, kasta dan wilayah. Termasuk bagi para da’i dan Guru Ngaji, meskipun setiap hari berjibaku mendidik generasi, mereka masih berjuang agar dapur tetap ngebul. Beliau Adalah Ibu Nikmat Daeng Lonna (47th) tinggal di Dusun Pattingalloang, Desa Bontosunggu, Kecamatan Bajen, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kegiatan beliau sehari-hari selain mengurus 3 anak dan keluarga, beliau lebih dari 20 tahun mengajar mengaji sebanyak 50 santri di rumahnya yang tidak layak huni. Ketulusan dan keikhlasannya, membuat santri datang untuk belajar dan mengaji dengan semangat dan sepenuh hati, meskipun ruang belajarnya tidak seberapa besar dibandingkan semangat besarnya.

Ibu Nikmat hanya menerima infaq mengajar sebesar Rp. 250.000,- sampai Rp. 300.000,- perbulan. Di sisi lain, untuk mencukupi kebutuhan sehari - hari, kadang jika ada rezeki lebih Ibu Nikmat jualan sayur dan jajanan anak di depan rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang dibantu suaminya sebagai buruh bangunan dan buruh tani. Potret kemiskinan yang membuat Ibu Nikmat dan da’i pelosok lainnya tidak mampu membangun rumahnya yang tidak layak huni.

Atas dasar itulah, program Rumah Harapan Da’i Pelosok BMM hadir untuk membangun rasa aman para pejuang pendidikan dalam mendidik generasi Qur’ani. Rumah yang layak dan aman akan mengangkat derajat dan martabat penerima manfaatnya, mendapatkan dukungan untuk mendidik lebih giat lagi. Sehingga, proses belajar mengajar akan lebih bagus dan berkualitas dengan hunian yang sehat, aman dan nyaman.