Daftar Program

MOUDY SORAYA - UNIVERSITAS INDONESIA

PENERIMA MANFAAT BEASISWA SARJANA MUAMALAT

SKU

TAGS

Share:

NAMA: Moudy Soraya

Semester: 7

Perguruan Tinggi: Universitas Indonesia

Jurusan: Biologi

 

Life Could be So Hard on You, but You Shouldn't Give Up

 

Mengawali tulisan dengan judul "life could be so hard on you, but you shouldn't give up", kira-kira apa sih hal yang mau saya ceritakan ini? Dengan judul seperti diatas, pasti sudah bisa menebak dong. Yap, cerita yang mau dibagikan kali ini merupakan perjalanan hidup yang saya alami sejak kecil hingga seperti sekarang. Tentu dalam hidup ini, tidak ada yang namanya selalu lancar, pasti ada lika-likunya dan hal itu wajar dialami oleh siapapun. Nah, ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan, pasti rasanya sedih kan?

Sedih itu wajar, tapi perlu diingat bahwa dengan adanya hal itu bisa membuat kita semakin dewasa tergantung bagaimana kita menyikapinya. Saat kesedihan melanda, jangan pernah lupa mimpi-mimpi maupun harapan-harapan apa saja yang ingin kita capai nantinya. Mimpi seperti apa sih memangnya? Saat kecil, pasti kita selalu ditanya seperti ini oleh orang-orang: "Kalau udah gede, mau jadi apa?" dan dengan entengnya kita menjawab "mau jadi dokter, polisi, pilot, tentara, ataupun tidak tahu". Nah, bahkan saat kita kecil saja kita sudah memiliki mimpi.

Saat saya ditanya seperti itu waktu kecil, saya menjawab bahwa saya ingin menjadi dokter. Sangat umum bukan? Saat itu, saya mau jadi dokter karena saya pikir akan sangat keren menjadi dokter. Dalam pemikiran saya, dokter itu pintar, baik, hebat, dan mau membantu orang dengan cara menyembuhkan orang yang sakit. Saat kecil, saya tidak takut sama sekali jika pergi ke rumah sakit.  Semakin saya dewasa, semakin ragu saya untuk tetap bercita-cita menjadi dokter.

Lebih tepatnya saat saya SMA, saya ragu dengan nilai saya apakah bisa diterima di kedokteran UI dan saya pun ragu untuk menjadi dokter karena sebagai dokter tidak boleh sampai salah diagnosa dan menurut saya itu sulit. Memang saya sangat ingin berkuliah di UI mengikuti jejak kaka saya dan karena UI tidak jauh dari rumah. Saya pun tidak jadi memilih kedokteran UI lewat SNMPTN karena nilai saya tidak memungkinkan. Saya pun memilih jurusan lain. Saat pengumuman SNMPTN, saya tidak lolos. Saat itu saya menangis.

Saat saya ke SMA saya, banyak guru yang bertanya "kok bisa kamu gak keterima?" "Aduh, kamu kan pintar". Semakin saya mendengar hal itu, saya semakin sedih. Memang benar jika di sekolah, saya masuk peringkat yang tinggi di angkatan. Tapi memang kenyataannya seperti itu, saya bisa apa? Hanya tersisa beberapa minggu lagi hingga ujian SBMPTN digelar, saya belajar mati-matian saat itu sendirian.

Saya belajar dengan cara latihan soal SBMPTN tahun-tahun sebelumnya. Bahkan saya belajar hingga mimisan. Memang sih saya salah karena baru belajar untuk persiapan SBMPTN dalam kurun waktu 3 minggu saja. Sedangkan teman-teman saya sudah belajar selama setahun untuk SBMPTN. Saat itu, saya tidak berharap banyak untuk bisa lolos SBMPTN. Namun, tuhan berkata lain. 

Saya diterima di Biologi UI lewat jalur SBMPTN. Betapa bersyukurnya saya dan bagi saya ini adalah hal yang berkesan untuk hidup saya. Memang saat itu saya hanya memilih UI saja sebagai kampus yang saya pilih. Saya tidak memilih kampus swasta karena keadaan ekonomi keluarga saya sedang tidak baik, jadi jika saya tidak diterima di UI maka saya akan menunggu ujian berikutnya tahun depan. 

Setelah itu saya pun mengikuti perkuliahan dengan baik. Saat memasuki semester 4 dan 5, menurut saya semakin sulit. Selain beban studi yang semakin berat, ayah saya mulai drop kesehatannya. Memang ayah sakit diabetes sejak dulu, tapi saat itu penglihatan ayah mulai terganggu. Beliau terancam tidak bisa melihat lagi, saat itu saya benar-benar sedih. Tidak lama setelah diketahui bahwa beliau semakin terganggu penglihatannya, pada tanggal 29 oktober 2018, ayah pergi ke surga. 

Saat itu merupakan titik terendah saya dalam hidup, adik-adik saya masih kecil, dan saya tidak tega melihat adik saya. Saya pun tidak masuk kuliah hingga satu minggu, saya menghilang dari sosial media, dan saya depresi. Tapi saya pun bisa bangkit lagi karena saya selalu mengingat apa yang ayah saya katakan sebelum meninggal, beliau bilang saya harus tetap kuliah apapun yang terjadi. Dan itulah yang saya lakukan hingga sekarang.

Setelah kejadian ayah saya meninggal, saya pun diterima sebagai penerima Beasiswa Sarjana Muamalat. Saya sangat bersyukur karena dengan adanya beasiswa ini, sangat membantu meringankan beban biaya kuliah saya. Memang hidup itu tidak ada yang tahu akan seperti apa, tapi bagaimana cara kita menyikapinya maka akan mengubah kehidupan kita sepenuhnya. Tetaplah berusaha dan jangan pernah sekalipun menyerah, karena sebenarnya hidup sangatlah indah.