Daftar Program

KARTIKA KRISMEYLINDA - UNIVERSITAS INDONESIA

PENERIMA MANFAAT BEASISWA SARJANA MUAMALAT

SKU

TAGS

Share:

NAMA: Kartika Krismeylinda

Semester: 7

Perguruan Tinggi: Universitas Indonesia

Jurusan: Keperawatan

 

Bukan Seorang Pemimpi

 

Saya tidak suka bermimpi, atau lebih tepatnya takut untuk bermimpi. Saya takut apabila banyak dari mimpi-mimpi saya tidak tercapai, saya tumbuh menjadi seseorang yang tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap kehidupan.

Saya mahasiswa biasa yang tidak suka bercerita. Ini tulisan pertama saya, mungkin akan saya mulai dengan perkenalan-perkenalan klise tapi semoga kamu tidak bosan. Biarpun bosan, saya akan tetap menyelesaikan tulisan ini dan semoga kamu membacanya sampai akhir.

Saya Kartika, mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan sekaligus penerima Beasiswa Sarjana Muamalat. Saat ini saya berusia 21 tahun, sejak kecil orang tua saya mendidik saya dangan keras namun bukan tipikal orang tua yang suka memaksakan kehendak. Saya selalu memiliki hak atas segala keputusan terkait pilihan yang saya ambil. Orang tua saya tidak pernah memaksakan atau meminta apapun termasuk keputusan bersekolah atau lainnya, mereka menyerahkan semua itu kepada saya. Kalau dipikir hal itu mudah dan menyenangkan, justru sebaliknya. Didikan orang tua yang seperti itu membuat saya dituntut untuk berpikir keras dalam mengambil setiap keputusan dan mau tidak mau harus mempertimbangkan semuanya sendiri. Saya jadi menuntut diri saya untuk menjadi anak baik atau seminimalnya tidak mengecewakan.

Hal ini yang sering kali membuat saya takut bermimpi, karna saya takut suatu saat saya tidak bisa mewujudkannya dan mengecewakan banyak orang. Saya tumbuh menjadi pribadi yang selalu berpikir sebelum mengambil keputusan dan sering kali kepribadian ini yang justru membuat saya menjadi penakut dalam mengambil langkah yang akan saya pilih. Saya menjadi siswa yang pemalu, penakut dan pendiam di sekolah. Pada satu sisi mungkin hal itu baik karena menjadi siswa baik-baik, penurut dan tidak banyak tingkah, tetapi pada sisi lainnya hal itu sama sekali tidak menguntungkan karena saya menjadi siswa yang tertutup dan apatis di sekolah.

Singkat cerita, ketika saya duduk di bangku SMA, saya dihadapkan pada pertanyaan "Mau jadi apa saya selanjutnya?". Sama seperti remaja kebanyakan, saya kebingungan. Masa SMA menjadi gerbang awal menuju masa depan dengan segala keputusan yang harus diambil, dan lagi-lagi saya terlalu takut untuk bermimpi. Sampai pada suatu masa saya bertemu dengan seorang teman yang menginspirasi saya, dirinya yang membantu saya mencari jalan keluar dari kebingungan itu. Saya perlahan mulai mencari jalan memulai sebuah proses untuk berubah. Saya selalu percaya satu hal, semua orang punya masanya masing-masing. Masa untuk berkembang, masa untuk terjatuh kemudian bangkit, masa untuk berproses, masa untuk memiliki dan kehilangan sampai akhirnya menemukan jalan keluar. Saya paham betul, saya akan punya waktu saya sendiri. Saat itu saya perlahan berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, dalam artian tidak se-apatis dulu. Tapi kemudian apa? Saya tidak benar-benar memiliki tujuan setelahnya. Sekali lagi, saya hidup tanpa sebuah ekspektasi.

Sampai akhirnya suatu masa membawa saya sampai pada titik dimana "Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain". Klise memang, tetapi untuk pertama kalinya saya menemukan tujuan saya. Saya ingin mengabdi untuk orang banyak, paling tidak itu yang ada di benak saya pada saat itu. Setelah menyelesaikan studi di SMA, saya harus melanjutkan kuliah untuk mencapai tujuan saya itu. Dengan segala apa-apa yang saya sebut dengan usaha, siapa sangka saya disasarkan takdir menjadi mahasiswa Keperawatan Universitas Indonesia.

Jujur saja, biarpun pada akhirnya saya memiliki tujuan tapi saya tidak benar-benar berekspektasi akan banyak hal lainnya. Tidak pernah terbesit dalam benak saya sebelumnya saya akan menjadi mahasiswa salah satu universitas terbaik di Indonesia, saya selalu merasa tidak pantas. Atau lebih tepatnya saya memang selalu merasa tidak pantas di mana pun. Saya memang tidak pernah tahu kehendak Tuhan, usaha dan takdir kenyataannya membawa saya kesini. Saya yang tidak pernah merasa pantas, tetapi usaha dan doa memang tidak pernah menghianati. 

Tapi percayalah, setelah menjadi mahasiswa pun semua ini tidak pernah mudah. Mulai dari semester 1 sampai saat ini semester 6, banyak hal sulit yang sudah saya lalui di sini.  Beban yang muncul sering kali membuat saya ingin menyerah, luka-luka itu sering kali muncul dari berbagai sisi dan kadang tak tertahankan. Namun, tiap kali ingin menyerah selalu ada banyak hal yang terjadi dan tanpa pernah saya duga.

Saya ingat salah satu pengalaman saya di semester 6 ini, ketika saya mulai benar-benar memasuki dunia"Keperawatan" dan bertemu dengan pasien serta keluarganya secara langsung. Siapa sangka bertemu dengan pasien sungguhan tidak pernah sama rasanya dari apa yang biasa dipelajari di kampus. Di sini saya benar-benar bertemu dengan pasien yang sakit secara fisik dan juga mental. Pasien yang benar-benar memiliki jiwa, raga, akal serta pikiran, dan keluarga pasien yang senantiasa menemani mereka selama mereka dirawat. Tidak pernah lebih menyakitkan melihat pasien terbaring lemah seorang diri tidak ada siapa pun di samping mereka. 

Siapa sangka saya bertemu dengan seorang kakek yang merupakan orang terlantar tanpa keluarga, tanpa teman, tanpa kekuatan terbaring lemah di rumah sakit. Siapa sangka ada seseorang yang tega menyakiti beliau sehingga memiliki keadaan yang sedemikian parahnya, namun dirinya tidak mampu berbuat banyak. Keadaan ini selalu mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah menyangka bagaimana takdir atau hidup orang lain. Sering kali kita merasa hidup ini berat, tetapi kita tidak pernah tau kehidupan yang lebih berat yang dialami orang lain. Kita selalu merasa tidak bersyukur atas kehidupan yang Tuhan berikan, tetapi kita tidak pernah melihat ke bawah bahwa banyak yang lebih tidak beruntung daripada diri kita sendiri.

Sampai saat ini pun saya masih tidak percaya atas apa yang sudah saya lalui, proses ini sangat panjang dan melelahkan. Senang, susah, sedih, kecewa, iba, empati semuanya adalah satu. Saya paham betul ini adalah bagian dari proses pembelajaran untuk diri saya sampai saat ini. Beban yang saya pikul mungkin berat, tetapi tidak lebih berat dari orang-orang yang saya lihat di luar sana. Setelah ini, mungkin akan ada banyak hal yang jauh lebih berat daripada ini, tapi saya harus selalu ingat untuk kembali ke tujuan awal.

Saya menyadari, seberat apa pun prosesnya dan sesulit apa pun jalan yang harus saya tempuh, saya harus bisa. Berjalan, berlari ataupun terseok-seok yang jelas saya harus sampai pada tujuan. Mungkin benar, tujuan awal saya ingin bermanfaat dan inilah jalannya. Saya memang tidak bisa membantu semua orang, tapi minimal saya harus bisa meringankan sedikit kesakitan yang mereka punya. Saya yang terbiasa hidup tanpa ekspektasi, perlahan menjadi seorang yang diekspektasikan banyak orang.

Untuk siapa pun di sana yang sedang berjuang seperti saya, mari berjuang bersama. Meskipun terseok-seok yang penting tidak melangkah mundur, karna kita tidak pernah tau takdir Tuhan yang mana yang akan membawa kita sampai kepada tujuan kita.